MENGENAL BEIJING MELALUI BIRD WATCHING



  • Add Comments
  • Print
  • Add to Favorites

MENGENAL BEIJING MELALUI BIRD WATCHING

Arif Sulfiantono, S.Hut

(PEH Pertama)

 

Burung selain sebagai indikator penting dalam menentukan daerah-daerah prioritas pelestarian alam, juga dapat menggambarkan kondisi masih utuhnya suatu kawasan alam. Hal inilah yang menjadi alasan utama saya untuk bergabung dalam komunitas pengamat burung di Beijing-China, yakni Beijing Bird Watching Society (BBWS). Apalagi melalui kegiatan bird watching dapat sekalian berwisata alam murah meriah.

Bird Watching di China

Dalam buletin Hongkong Bird Watching Society nomor 205 tahun 2008, kegiatan bird watching di daratan China sendiri dimulai awal tahun 1980an. Saat itu juga awal munculnya reformasi ekonomi di China, serta mulai diijinkan sejumlah diplomat atau delegasi untuk melakukan penelitian. Walaupun begitu, klub pengamat burung Hongkong (Hongkong Bird Watching Society) sudah berdiri pada tahun 1957. Beijing Bird Watching Society sendiri baru berdiri pada tahun 2004, masih relatif muda.

Saya sendiri mengenal teman-teman BBWS setelah diajak ikut bird watching oleh teman dari LIPI, seorang birdwatcher tanah air yang sedang mengambil master di Beijing seperti saya, dan mantan mahasiswanya Kang Bas (Karyadi Baskoro, dedengkot bird watching Indonesia) di Biologi UNDIP. Ternyata walaupun menyandang sebagai ibukota dengan jumlah penduduk sebanyak sekitar 20 juta orang (dua kali Jakarta), Beijing masih banyak menyisakan ruangnya untuk kawasan alam. Dengan luas sebesar kira-kira 16.000 Km2, luas tutupan hutan (forest cover) di Beijing pada tahun 2012 mencapai 38,6%, naik dari 12,83% di tahun 1980.

731 National Forest Park/NFP (taman nasional) di China, 15 diantaranya ada di Beijing. 15 NFP ini melengkapi kawasan pelestarian alam selain Zoo (kebun binatang), Park (taman), Lake (danau), Botanic Garden (kebun penelitian alam), dan Mountain (gunung/pegunungan). Semuanya dikelola dengan profesional dengan anggaran yang tidak sedikit jumlahnya.

South Gate Forest Park

Pengalaman yang paling berkesan saat birdwatching bersama teman-teman BBWS adalah saat pertama kali bird watching di South Gate Forest Park (kompleks Stadion Olympic) dan di Miyun Reservoir (90 Km dari pusat kota Beijing). Ini yang menarik, ternyata di kawasan stadion juga ada kawasan alam yang sangat indah, walaupun berupa buatan manusia. Tepatnya dibangun menjelang Olimpiade Beijing tahun 2008.

Hari Minggu tanggal 11 November 2012, saat itu awal musim dingin. Kondisi di luar sangat dingin, apalagi saat angin bertiup kencang. Walaupun begitu, saya dengan semangat 45 berangkat untuk kegiatan bird watching perdana pada pukul 07.00 pagi dari kampus Beijing Forestry University. Dengan menggunakan kereta cepat atau disebur subway, perjalanan menuju South Gate Forest Park lumayan singkat, hanya sekitar 20 menit. Subway adalah transport favorit Beijing, karena dengan tiket sebesar 2 RMB (Rp 3000,-) sudah dapat keliling Beijing.

Kawasan South Gate of Forest Park sendiri sangat luas, ada danau kecilnya dan sungainya juga. Bagus sekali untuk wisata keluarga, apalagi biaya masuk gratis. Lokasi juga tertata rapi. Ada beberapa bagian tumbuhan cemara, jenis pinus dan poplar, ada juga kawasan padang rumput yang kering dengan air yang menggenanginya.

 

Beberapa bebek liar (mallard) jenis Anas platyrhynchos asyik bermain di danau kawasan padang rumput. Ada beberapa jembatan kayu yang membelah padang rumput berair ini, dan dapat dipakai pengunjung menikmati kawasan. Kalau pengunjung teliti akan terlihat beberapa jenis mallard, bangau (heron), dan burung air (shore bird).

 

Awalnya kami berjalan di area hutan pinus. Di lokasi ini kami menemukan burung jenis bulbul (Pycnonotus aurigaster) atau sejenis kutilang di Indonesia. Kemudian beralih ke lokasi padang rumput. Disini kami banyak menemukan jenis Mallard.

Mallard jantan yang berwarna hijau dan putih saat berenang di air akan diikuti 2-3 ekor betina yang berwarna putih-coklat menjadikan pemandangan sangat menarik. Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna. Sesekali terlihat bebek terbang, kemudian mendarat di air. Subhanallah, sungguh luar biasa ciptaan-Nya saat berkolaborasi di alam.

Walaupun kami tetap kedinginan, kami semangat dan menikmati birdwatching ini. Apalagi ditunjang dengan tidak banyaknya pengunjung yang ada di kawasan ini. Faktor awal musim dingin dimungkinkan menjadi penyebab sedikitnya pengunjung. Sesekali terlihat beberapa pengunjung tamasya dengan membawa kamera dan tongkat untuk membantu berjalan. Ada juga yang berolahraga jogging dan sepeda.

Momen yang menarik adalah saat mengamati burung jenis shore bird (burung di air) di jembatan kayu yang membelah padang rumput. Kami juga melihat Raptor/elang jenis Accipiter nesus yang terbang, sepertinya mengejar jenis Magpie (Pica pica).

Keasyikan lainnya adalah saat mengamati burung jenis ‘pelanduk semak’ yang bersembunyi dan berkamuflase di semak. Sepertinya sarangnya ada di dalam semak tersebut, karena burung tersebut senantiasa berada di lokasi tersebut. Baru kali ini saya melihat burung jenis pelanduk semak dengan sangat jelas. Di Merapi tidak pernah dapat melihat bentuk asli jenis burung pelandung semak, hanya terbatas mendengar suaranya saja.

Saat berada di dekat danau yang besar, tiba-tiba kami melihat sejenis bangau. Ternyata seekor bangau (grey heron) jenis Ardea cinerea sedang berdiri mematung di pinggir danau. Warnanya abu-abu dan putih. Begitu puas mengamati burung tersebut, kami segera beranjak untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00.

Miyun Reservoir

Sepekan setelah birdwatching di South Gate of Forest Park, aku diajak lagi untuk birdwatching di Miyun Reservoir. Sebuah kawasan pertanian dengan danau yang cukup luas.

Saat berangkat dari kampus setelah sholat shubuh pukul 05.40, di luar masih gelap dan lumayan dingin. Ternyata kami berangkat bersama siswa Middle School atau sekolah setingkat SMP.

Yang bikin iri adalah banyak siswa tersebut bersenjata kamera DSLR yang mahal dengan ‘termos’ alias lensa besar ukuran 500mm. Perjalanan selama 2 jam menggunakan bus sampai di Miyun Reservoir. Tanahnya seperti jenis grumusol, terasa liat, lengket dan licin di sepatu.

Daerahnya sangat luas, karena ada perahu pencari ikan juga. Beberapa mobil terlihat ada di tepi danau. Ternyata mereka pemancing. Mayoritas jenis burung air seperti duck/mallard, goose, dan swan.

Banyaknya jenis bebek saat berenang di danau, kondisi berdiri di tepi danau, atau terbang menjadikan pemandangan yang menakjubkan. Subhanallah, sungguh kebesaran Tuhan menciptakan makhluk yang luar biasa. Semuanya langsung dalam posisi nyaman untuk memotret maupun mengamati dengan binokuler atau monokulernya.

Saat menjumpai jenis baru semuanya langsung tertarik untuk mengamati dan memotret. Seperti saat melihat raptor Hen Harrier jenis Circus cyaneus yang cukup besar sedang terbang soaring. Kemudian jenis shore bird lain seperti black tailed gull (Larus crassirostris).

Harus jeli untuk menemukan jenis shore bird karena hanya ada satu-dua ekor di tepi danau dan berada diantara banyak bebek. Warnanyapun hampir mirip dengan lingkungan sekitarnya. Kamuflase yang bagus.

Sekitar pukul 14.00 kami beranjak pergi menuju bus untuk pulang. Sepanjang perjalanan mata kami tetap siaga mengamati seandainya ada jenis baru lagi. Ternyata benar. Kami menjumpai jenis baru yang sedang bertengger di tanaman jagung yang sudah kering..

Sampai Middle School lagi ternyata kami diajak salah seorang guru senior untuk makan malam di sebuah restoran cukup mewah. Wah, perjalanan yang sangat menyenangkan. Dari berawal dua tempat inilah saya semakin mengenal kawasan wisata alam di Beijing dan ‘blusukan’ di dalamnya.

No Comments to “MENGENAL BEIJING MELALUI BIRD WATCHING”

tambah komentar.

Leave a Reply





 

  • Artikel

    Fauna TNGM

    Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi memiliki potensi fauna yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survey yang telah...

    August 5th, 2016 | Read more